pilihan donasi
sains di balik alasan kita lebih mudah membantu satu orang daripada sejuta orang
Pernahkah kita sedang asyik membuka media sosial, lalu tiba-tiba melihat kampanye donasi untuk satu anak kecil yang butuh biaya operasi? Ada foto wajahnya yang pucat. Ada cerita singkat tentang mimpinya untuk bisa kembali bersekolah. Tanpa pikir panjang, hati kita tergerak dan jari kita langsung mentransfer sejumlah uang. Namun, di hari yang sama, kita membaca berita utama: ratusan ribu orang terancam kelaparan akibat konflik di sebuah negara. Anehnya, kita hanya menghela napas, menggulir layar ke bawah, dan melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa. Ada sebuah paradoks yang gelap namun sangat manusiawi di sini. Kenapa satu tragedi membuat kita menangis, sementara tragedi massal hanya menjadi angka statistik yang lewat begitu saja?
Sebelum kita merasa bersalah, mari kita tarik napas sejenak. Apakah ini berarti kita adalah manusia yang jahat, egois, atau kehilangan moral? Sama sekali tidak, teman-teman. Secara logika matematika, nyawa satu juta orang jelas lebih berharga daripada satu orang. Kita semua tahu itu. Namun, sejarah panjang evolusi manusia menceritakan hal yang berbeda. Otak kita tidak berevolusi untuk merespons penderitaan dalam skala global. Ratusan ribu tahun yang lalu, nenek moyang kita hidup dalam suku-suku kecil yang beranggotakan puluhan orang saja. Kita dirancang secara biologis untuk peduli pada orang-orang di depan mata kita. Menyelamatkan kawan satu suku adalah jaminan keberlangsungan hidup. Otak kita belum sempat memperbarui sistem operasinya untuk menghadapi tragedi berskala dunia di era internet ini.
Mari kita berkenalan dengan seorang psikolog bernama Paul Slovic. Bertahun-tahun lalu, beliau menemukan sebuah bias kognitif yang kini dikenal luas sebagai the identifiable victim effect atau efek korban yang teridentifikasi. Slovic membuktikannya lewat sebuah eksperimen sosial yang brilian. Ia membagi partisipan ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama diberi brosur tentang Rokia, seorang gadis kecil asal Mali yang kelaparan, lengkap dengan fotonya. Kelompok kedua diberi brosur berisi data statistik tentang jutaan anak di benua Afrika yang menghadapi krisis gizi buruk. Tebak kelompok mana yang menyumbang jauh lebih banyak? Betul sekali, Rokia menang telak. Cerita satu orang gadis kecil sukses menghancurkan data jutaan orang. Tapi, ada satu detail eksperimen yang jauh lebih mencengangkan. Ketika foto Rokia digabungkan dengan data statistik jutaan anak tadi di dalam satu brosur, jumlah donasi justru merosot tajam. Tunggu dulu. Kenapa tambahan informasi angka jutaan orang justru membunuh empati kita pada Rokia?
Di sinilah sains membongkar rahasia otak kita. Jawabannya ada pada fenomena neuropsikologis yang disebut psychic numbing atau mati rasa psikologis. Otak manusia adalah mesin yang luar biasa, namun ia punya batas kapasitas emosional. Ketika kita melihat wajah Rokia, bagian otak kita yang bernama amygdala menyala terang. Ini adalah pusat emosi. Hormon empati mengalir deras, dan kita merasa harus segera bertindak. Sayangnya, ketika kita mendengar kata "satu juta orang tewas", otak kita menggeser beban informasi itu ke prefrontal cortex. Ini adalah pusat logika dan analitis. Masalahnya, empati itu digerakkan oleh rasa, bukan kalkulator. Ketika angkanya terlalu raksasa, otak kita kewalahan. Kita merasa bantuan kita tidak akan ada artinya, hanya seperti membuang segelas air tawar ke tengah samudra. Untuk mencegah kita hancur akibat stres emosional yang berlebihan, otak kita secara otomatis mematikan sakelar rasa peduli itu. Ironisnya, di dalam kepala kita, matematika empati bekerja secara terbalik: semakin besar jumlah korban, justru semakin menyusut rasa kemanusiaan kita.
Mengetahui bug atau cacat bawaan pada otak ini bukanlah alasan bagi kita untuk menyerah dan bersikap masa bodoh. Justru sebaliknya. Ini adalah senjata utama kita untuk menjadi manusia yang lebih cerdas dalam berbuat baik. Kita sekarang sadar bahwa empati itu butuh wajah, butuh nama, dan butuh cerita. Jadi, ketika esok hari kita dihadapkan pada berita statistik penderitaan yang mengerikan, mari kita berhenti sejenak dan menipu balik otak kita. Ingatkan diri kita sendiri bahwa di balik angka jutaan itu, ada jutaan cerita tunggal yang sama menyayat hatinya dengan cerita satu anak kecil yang sering kita bantu. Kita memang tidak bisa menyelamatkan seluruh dunia, dan emosi kita mungkin tidak akan pernah sanggup memproses skala penderitaan yang masif. Namun, kita selalu punya pilihan untuk menggunakan logika demi memandu hati. Mari kita jadikan empati sebagai percikan api pertama, lalu gunakan rasionalitas kita untuk memastikan api kebaikan itu menyala di tempat yang paling membutuhkan.